Dulu sekali, menulis adalah suatu keterpaksaan. Sebuah soal mengarang selalu muncul di tes Bahasa Indonesia. Dan nilai mengarangku tidaklah terlalu bagus. Apadaya, tulisan tanganku tidak rapi, meskipun aku berusaha mengarang sengarang-ngarangnya. Ya, meskipun soalnya menyuruh menulis pengalaman pun aku akan mengarangnya. Entah kenapa. Aku dulu selalu berpikir pengalamanku yg asli tak akan bagus ditulis, jadi kukarang saja agar tampak lebih bagus. :p
Tak ada yg menganggap hasil karanganku terbaik, terbukti dari bukan aku yg dikirim mengikuti lomba mengarang atau lomba bahasa Indonesia. Karena ukuran waktu itu tentu saja tulisan tangan yg baik. Jadi, aku tak berpikir bahwa aku bisa menulis, karena tulisan tangan yg naik turun itu.
Tapi satu kejadian membuatku berpikir bahwa sebuah karangan bukan hanya tulisan tangan yg rapi dan banyak. Tulisan menyimpan ide, yg sesungguhnya lebih besar dan mendasar.
Seorang guru SD ku berkata bahwa beliau merasa tersentuh membaca tulisanku tentang “apa yg akan dilakukan jika menjadi murid teladan”. Karangan itu dibuat dalam seleksi murid teladan di sekolahku.
Itulah karangan yg paling ngarang yg pernah kubuat ketika usiaku 11 tahun. Tentu saja segala hal indah dan baik yg membuat guruku tersentuh bukan yg sesungguhnya ingin kulakukan. Aku bahkan tidak berminat menjadi murid teladan. :p (Sejak saat itulah aku jadi tau bahwa tulisan adalah media paling baik untuk membual)
Tapi sepanjang karir sekolahku, aku tak pernah menulis selain tugas sekolah atau waktu ujian. Salah satu tulisan yg agak serius kukerjakan adalah naskah drama untuk tugas Bahasa Indonesia waktu SMA. Naskah itu kusadur dari sebuah cerpen sastra.
Saat aku masuk kuliah, kebetulan adalah saat blog sedang happening. Tak ketinggalan aku membuat. Saat itu, entah kenapa aku sedang gemar berpuisi, jadilah blog yg isinya puisi… kuberi judul LABIRIN SAJAK.
http://labirinsajak.blogspot.com/
Ah, ya, saat SMA itu tiba-tiba aku berpikir untuk berkarir sebagai penulis, sastrawan tepatnya. Dan akupun kuliah jurusan sastra.
Saat kuliah itulah ku mulai serius menulis, but not much I can do to reach my ambition to be a sastrawan… hehehe…
I’m just common people, unknown writer, average blogger, with few follower in twitter… :p
Thank you very much for reading this personal bullshit…