Sebut saya pervert! Entah kenapa saya suka hunting film yang ada nude scene nya. Hehehe… Tapi bukan film sembarangan tentu saja. Kalo mau menonton adegan buka-bukaan saja gak usah susah-susah mencari. Yang saya maksud adalah film-film bagus, berkelas festival, dengan aktor dan aktris mumpuni, sehingga nude scene atau sex scene di film itu menjadi bernilai lebih, bukan sekedar merangsang penonton atau bahkan mengikuti selera pasar semata. Film-film jenis ini yang agak sudah didapat di pasaran. Pasti dikira film semi, padahal film seni… Kalau hanya dilihat sebagai film semi, maka kita hanya mendapat ‘ketegangan’ tapi kalau dilihat sebagai film seni, seharusnya ada hal-hal yang dapat kita ambil, semacam pesan humanisme yang akan memanusiakan kita kembali…

Kali ini saya hanya akan mereview beberapa judul yang sudah saya tonton, yang memiliki tema serupa, selain muatan erotik yang cukup kental di dalamnya, tentu saja… :D

1.       Aein (2005, Korea)

Ceritanya sederhana saja, seorang perempuan dan seorang laki-laki bertemu, lalu terlibat hubungan mesra, semua terjadi dalam latar waktu satu hari saja, atau bisa dikatakan sebagai cinta satu malam… oh indahnya… (lho kok malah nyanyi). Setidaknya terdapat 3 adegan intim di 3 tempat berbeda: di sebuah gedung kosong, di kamar hotel, dan di kamar mandi…

Perhatian utama saya tentu saja pada Hyeon-a-Seong, aktris pemeran utama wanita yang cantik dan sedap dipandang… *menelan ludah*

Hehe, tentu tidak hanya itu, kisahnya pun menarik diikuti. Dan saya tidak Cuma memperhatikan lekuk tubuh Hyeon-a-Seong lho, karena akting dia pun bagus, dia bisa benar-benar membawakan peran seorang perempuan dewasa yang sedang galau menghadapi pernikahan tetapi malah melibatkan diri dalam cinta satu malam dengan seorang pria asing.

2.       En La Cama (2005, Chile)

Tadinya saya berpikir antara Aein dan En La Cama salah satunya mencontek ide yang lain. Tapi karena diproduksi pada tahun yang sama, saya berkesimpulan kesamaan ide cerita hanya kebetulan saja…

Ceritanya hampir sama dengan Aein, laki-laki dan perempuan yang kebetulan bertemu dan terlibat cinta satu malam… oh indahnya.. (duh, nyanyi lagi). Menariknya, dalam En La Cama hanya ada satu scene, yaitu di dalam kamar sebuah hotel, lebih tepatnya di atas ranjang (sesuai judulnya yang berarti In Bed). Hanya ada 2 tokoh di sana, Daniela dan Bruno, yang melakukan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan berdua di atas ranjang sepanjang malam (pembaca bisa membayangkan sendiri).

Saya suka dengan penceritaan film ini, dimana dialog-dialognya yang bernas diselingi adegan-adegan mesra dan intim, perlahan-lahan membangun kisah, bahwa ternyata mereka tidak saling kenal, bahkan mungkin mereka mengarang nama mereka, dan di akhir film diungkap bahwa sang wanita ternyata akan menikah. Ya, dia membawa undangan pernikahannya di dalam tas. Oh damn!

3.       Jamon Jamon (1992, Spain)

Apa yang paling menarik dalam film ini? Tentu saja the 18-year-old Penelope Cruz!! Whew… lalu apakah dia melakoni adegan-adegan ho-oh ho-oh? Jangan tanyakan lagi, bukannya dari awal saya sudah bilang akan mereview jenis film ini? Hehehe…

Setidaknya penampilan pasangan Penelope Cruz dan Javier Bardem yang masih muda-muda di Jamon Jamon sangat segar,  tidak senanggung penampilan mereka berdua di Vicky Christina Barcelona, dimana tidak ada adegan vulgar meski kisahnya cukup romantis dan erotis… :P

Cerita film Jamon Jamon cukup kompleks, melibatkan seorang penjual ham (daging babi asap) , satu keluarga miskin terdiri dari ibu dan anak perempuannya, dan satu keluarga kaya yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki-lakinya. Mereka semua terlibat dalam cinta segi banyak yang jalin-menjalin. Susah juga menceritakan dengan detil, yang jelas banyak scene-scene menarik disana. Nggak nahan liat Penelope Cruz yang masih imut di emut-emut… whew… *ngelap keringat* apalagi Javier Bardem masih muda, gagah dan kekar… uugh.. rawwrr..(eh kok jadi gak jelas gini orientasi gue)

Film ini dengan witty dan smart menampilkan bagaimana kehidupan di pinggiran kota yang gersang, keras, dan penuh nafsu, dimana orang miskin pun harus bersaing dengan orang kaya dalam urusan cinta…

Saya kira cukup 3 film dari 3 negara yang saya review, karena sudah mewakili masing-masing benua yang berbeda. Sayangnya saya tidak mendapatkan film dari Afrika dengan tema serupa, hehehe… lagian kalau dapat film Afrika, apakah tahan menontonnya ya? Lebih baik nonton Discovery Channel…

Apa yang saya dapat dari ketiga film di atas? Kisah tentang nafsu. Nafsu yang seringkali mendapat pembenaran untuk dilampiaskan hanya karena depresi, emosi, dan kondisi psikologis manusia yang rapuh. Sementara,  perempuan yang selalu menggunakan emosi, menjadi objek. Saya melihat perempuan dalam film Aein dan En La Cama yang sedang gelisah mengahadapi pernikahan, melampiaskan kegalauan dengan mencari kepuasan dari pria lain. Para perempuan itu merasa menjadi subjek dengan mempermainkan laki-laki, tetapi mereka justru menjadi objektifikasi dari pria asing yang mencari cinta sesaat. Alih-alih menemukan kesenangan semu, para perempuan itu justru bertambah gelisah ketika pria asing itu mengharapkan lebih dari kesenangan semu semata.

Seperti halnya Penelope Cruz dalam Jamon Jamon, dia semakin bingung ketika si anak laki-laki kaya ternyata begitu desperate untuk mendapatkan cintanya, meskipun ia tampaknya hanya ingin bermain-main cinta saja. Sementara penjual ham menawarkan cinta yang lebih nyata, meskipun ia sebenarnya juga menjadi ‘brondong’ si nyonya kaya.

*****

Human,  love, passion. Tigal hal yang tak akan habis dikupas kisahnya. Saya senang dengan film-film yang mampu secara jujur menampilkan kisah manusia yang bergelut dengan cinta dan nafsu. Menonton film-film bertema demikian tidak sekedar memuaskan pikiran jorok, tapi selebihnya, saya belajar menyadari bahwa hawa nafsu juga bagian dari diri manusia. Cinta kadang hanyalah nafsu yang menggebu, dan sebaliknya di balik nafsu diam-diam ada cinta yang terselubung. Akhir kata, kita sendiri lah yang harus menentukan apakah nafsu atau cinta yang kita rasakan sebenarnya…