Suatu malam saya bermimpi dikejar-kejar penjahat, lalu bersembunyi di balik mobil, berlarian di antara lorong-lorong gedung. Menegangkan, seperti dalam sebuah film thriller.

Lain waktu, saya kebelet pipis tengah malam. Dalam mimpi, saya beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke toilet, belum sempat saya memelorotkan celana, saya terbangun. Lalu dengan setengah sadar saya berjalan ke toilet. Belum sempat pipis, saya kaget dan terbangun lagi. Jiaah… ternyata masih mimpi. Mimpi di dalam mimpi!

Apapun bisa terjadi di dunia mimpi. Mimpi seperti labirin yg kita tidak tahu akan membawa kita kemana, dan dimana jalan keluarnya. Kita baru tersadar bahwa itu mimpi ketika kita terbangun dari tidur.

Adalah Christoper Nolan, yang memvisualkan mimpi dalam film terbarunya, Inception. Dengan didukung cast sekelas Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Marion Cotillard, hingga Ken Watanabe, maka tak salah jika ekspektasi penoton sangat tinggi. Dan Nolan benar2 membayarnya dengan menyuguhkan film kelas tinggi yang menyisakan diskusi panjang begitu penonton meninggalkan teater…

Menonton film ini rasanya seperti berbagi mimpi dengan penonton di seluruh dunia, lalu kita membicarakan tentang mimpi itu setelah terbangun. Jika belum menonton, sebaiknya segera beli tiket, lalu bergabung dengan jutaan manusia lain untuk ikut berbagi mimpi karya Nolan ini…

Susah juga membuat review yg baik tentang film ini tanpa memberi sedikit spoiler. Jadi maaf saja bagi yang belum nonton. Sebuah mimpi memang tidak akan menarik lagi jika sebelum tidur kita sudah tahu akan mimpi apa. Makanya, sebelum Inception dirilis, jalan cerita film ini tidak pernah terekspose. Baru setelah film tayang, bermunculan berbagai analisa dan interpretasi atas film ini.

Saya disini akan menganalisa sedikit tentang alur cerita. Setidaknya ada 2 garis cerita. Yang pertama, misi Cobb (Leonardo Dicaprio) dan timnya untuk melakukan insepsi (memasukkan ide ke dalam bawah sadar seseorang). Kedua cerita retrospeksi Cobb mengatasi rasa kehilangan atas istrinya, Mal (Marion Cotillard). Cerita pertama tentu beralur maju, adegan menegangkan dibangun hingga kita bertanya-tanya apakah misi mereka berhasil atau gagal. Sementara cerita kedua beralur mundur, kita dibuat penasaran akan apa yg awalnya terjadi pada Cobb dan Mal.

Menariknya, kedua cerita itu dibingkai dalam satu rangkaian mimpi, atau lebih tepatnya mimpi di dalam mimpi, terdiri dari 3 level mimpi. Disinilah film menjadi rumit, dan terjadilah ‘indeterminasi’ , ada yg menyebutnya plot-holes, titik-titik dimana penonton dapat melakukan interpretasi. Indeterminasi atau  gap-nya adalah antara mimpi dan realitas di sana, yang hampir tak terjelaskan sepanjang film.

Beberapa petunjuk dapat dirujuk untuk mengisi ‘gap’ dan berinterpretasi, mana realitas dan mimpi. Petunjuk itu, secara cedas, dihadirkan lewat beberapa penjelasan ilmiah tentang mimpi. Pertama, tentang bagaimana perbedaan relativitas waktu antara realitas dan mimpi. Kedua, tentang bagaimana membangun ruang dalam mimpi dan mengendalikannya. Ketiga, tentang totem, benda untuk menandai dan membedakan realitas dan mimpi. Keempat, yg menjadi premis film, adalah bagaimana ekstraksi dan insepsi ide dilakukan di alam bawah sadar.

Kerumitan film ini, menurut saya hanya terjadi karena penggabungan 2 cerita di atas. Kisah Cobb dan Mal sendiri bisa berdiri sendiri sebagai sebuah film drama surealis-psikologis. Lalu kisah misi itu punya bobot sama dengan aksi sci-fi sekelas Matrix.

Yang briliant dari Inception adalah penggabungan drama dan aksi sci-fi, dalam bingkai dunia mimpi. Christopher Nolan sekali lagi berhasil menyajikan kompleksitas dari ide-ide cerita sederhana, seperti yang pernah dilakukannya saat membesut Memento. Nolan tampaknya berhasil melakukan insepsi ide ke dalam bawah sadar penontonnya. Apa ide tersebut? Tergantung interpretasi masing-masing.