“Minggu Pagi di Victoria Park” (MVdVP) adalah film Indonesia yg pertama saya tonton di tahun 2010 ini, dan bener-bener puas. Film yg nggak mengecewakan.  Dengan hadirnya film karya seorang sutradara perempuan ini, sineas pria di negeri ini harusnya malu jika hanya bisa bikin film yg mengumbar syahwat.

Saya ingat, dulu pernah nonton filmnya Lola Amaria yg judulnya Betina di kampus. Film itu menurut saya bagus, meskipun surrealis, tapi tetep tidak kehilangan benang merah ceritanya. Jika film pertama Lola cenderung surealis, maka film keduanya adalah realis.

Nah, ekspektasi saya dengan film kedua Lola Amaria ini adalah rangkaian ceritanya akan apik, dan lagi menyajikan realita kehidupan TKW di hongkong. Jika pernah nonton film dokumenter Pertaruhan, kita akan tau kalo beberapa hal di MPdVP itu adalah potret realitas. Apalagi dengan sinematografi yg baik, film ini jadi sangat sedap dipandang. Hongkong dipotret sebagai kota yg indah, seindah harapan para TKW. Bukan gambaran Hongkong yg suram ala film gangster.

Dan ekspektasi saya terbayar. MPdVP memang menyuguhkan jalinan cerita yg jernih, dengan benang utama kisah Mayang yg datang ke Hongkong hanya untuk mencari Sekar, adiknya. Dari situ, konflik mulai dibangun dengan latar lika-liku kehidupan TKW.  Mayang bimbang dengan keputusannya mengejar sang adik ke Hongkong. Ia sebenarnya tak pernah akur dengan adiknya.

Cerita-cerita sampingannya memperkuat konflik utama. Keluarga majikan Mayang yg baik. Sari yg diporotin imigran India pacarnya. Ada Agus dan Yati, sepasang TKW yg lesbian. Gandi pegawai konsulat yg dekat dengan para TKW dan mau menolong Mayang mencari Sekar. Juga ada Vincent, orang Indonesia keturunan yg jadi pedagang di Hongkong, yg naksir Mayang. Alur utama dan sampingan berjalan selaras hingga mencapai klimaks dan penyelesaian yg rapi. Tidak ada kesan untuk mendramatisir, bahkan tidak ada satupun karakter antagonis di film ini. Yang antagonis adalah situasi, khas film realis banget.

Kalo ada yg bilang kekurangannya di beberapa adegan yg agak maksa (pesan sponsor kali yee) dan kemunculan karakter Gandi yg kurang pas (dan katanya lagi2 ini pesan sponsor juga..). Menurut saya itu semua nggak mengganggu jalan cerita. Karena cerita dan konfliknya dibuat sederhana dan serealistis mungkin, jadi ditambah adegan apa pun di luar cerita juga nggak masalah.

Film ini mengingatkan saya pada film-film drama Hongkong yg sering diputar di TV tahun-tahun 1990-an (bukan yg film vampir-vampiran lho). Cukup realis, tapi enak diikuti karena porsi dramanya pas. Juga mengingatkan pada kepiawaian sineas Iran merangkai cerita sederhana dan membalutnya dalam konflik batin antarmanusia. Jika film ini mampu juga berbicara di kancah internasional, dengan melihat film-film Indonesia yg pernah berjaya di festival film, maka kesimpulan saya wajah film Indonesia yg bagus adalah yg cenderung bercorak feminisme…

Advertisement