Bayangkanlah sebuah dunia yang begitu indah, dengan burung-burung berwarna-warni, tanaman-tanaman bersulur, bunga-bungaan yang berpendar cahaya di malam hari, dan gunung-gunung yg mengawang di angkasa. Di sana, ada peradaban manusia bertinggi 3 meter berwarna biru, yang begitu menyatu dengan alam. Tiap ujung helai rambut mereka menjadi alat penghubung untuk berkomunikasi dengan alam, untuk mendengarkan suara para leluhur, untuk menyeleraskan pikiran ketika berkendara dengan kuda dan burung.

Lalu aku pun membayangkan betapa menyenangkan menjadi seorang pembuat film di Hollywood, bisa mewujudkan impian seindah dan segila apapun hingga mampu memanjakan mata, bukan hanya di angan belaka…

Ya, dunia utopis itu bernama Pandora. Hanya suatu planet kecil, atau satelit. Penghuni pribuminya disebut kaum Na’vi. Penciptanya adalah James Cameron, yang juga pernah mencipta robot pemusnah dari masa depan bernama Terminator dan juga pernah mereproduksi kejayaan dan kehancuran kapal Titanic…

Wait a minute…. Pandora? Nama itu mengingatkanku pada kisah mitologi Yunani. Sebuah kotak bernama Pandora, yg jika dibuka akan membebaskan iblis di dalamnya. Pandora adalah sebuah paradox yang menjelaskan eksistensi manusia.

Itulah yg menjadi turning point kisah besutan James Cameron. Manusia bumi menginvasi Pandora, terkesima dengan kekayaan alamnya, lalu berniat membedah tanah Pandora untuk mendapatkan Unobtainium. Pilihan nama yg bagus untuk materi yg hanya memicu keserakahan manusia. Apa yg akan terjadi ketika manusia-manusia bumi itu “membuka” Pandora?

Jawabannya tentu saja akan anda temukan dalam film Avatar, film yg disebut sebagai film termahal saat ini…

Jika anda sudah menontonnya, silakan membayangkan diri anda tengah duduk di Rumah Pohon sambil membaca review ini… Jika belum, teruslah membaca sambil membayangkan rupa negeri Pandora… J

Alkisah, manusia bumi yg menginvasi Pandora semakin serakah untuk mengambil kekayaan alam bernama Unobtanium. Di sisi lain, sekelompok ilmuwan berhasil menjalin hubungan dengan suku Na’vi. Caranya dengan membuat ‘avatar’, tubuh buatan sebagai perantara, yg dikendalikan dengan kekuatan pikiran manusia. Dan setiap ilmuwan di sana hanya bisa mengendalikan satu avatar untuk berkomunikasi dengan suku Na’vi.

Para ilmuwan berhasil membangun hubungan baik dengan suku Na’vi, hingga mereka pun bisa berbahasa Inggris, dan para ilmuwan itu bisa pula berbahasa Na’vi. Sementara itu, perusahaan yg didukung militer tengah bersiap menghancurkan pusat peradaban Na’vi—yg berupa pohon raksasa yg menjadi rumah suku Na’vi—demi mendapatkan sumber Unobtainium yg tak terbatas di dasar pohon.

Di tengah mereka, muncul Jake Sully, mantan marinir yg lumpuh, yg menggantikan saudara kembarnya yang telah tewas untuk mengendalikan avatarnya. Pendatang baru ini diharapkan bisa berdiplomasi untuk merelokasi suku Na’vi dari Rumah Pohon mereka tanpa pertumpahan darah.

Kebetulan, ada pertanda dari roh leluhur hingga Jake Sully mendapat kepercayaan kepala suku. Ia pun belajar untuk menjadi bagian dari suku Na’vi, dengan dibantu Neytiri, putri kepala suku.

Hasilnya?

Tentu anda akan dengan mudah menebaknya: Jake Sully mampu menjadi bagian dari suku Na’vi dan menguasai semua keahlian mereka, dan bahkan meraih cinta Neytiri (does it sound so Hollywood?)

Masalah muncul di babak akhir film. Diplomasi Jake dan para ilmuwan gagal. Pohon itu terlalu keramat dan patut dipertahankan sampai mati oleh suku Na’vi. Jalan satu-satunya: perang. Lalu terjadilah perang antara militer bersenjata canggih, dengan suku-suku tradisional berpanah dan pisau. Dan Jake Sully beserta para ilmuwan berada di belakang suku Na’vi.

Jake Sully datang sebagai pahlawan Toruk macto berkendara burung terbesar di Pandora, mengalahkan pesawat2 militer lawan… dan senang sekali menyaksikan sang Jenderal yg menyebalkan mati terpanah (sorry bagi yg belum nonton, ini spoiler… :P ..)

Ya, itulah sekelumit kisah kepahlawanan a la Hollywood… yg terus dicoba untuk diperbarui dengan menampilkan konflik yg kekinian dan special effect super canggih.

Bagaimana pun, gambaran negeri utopia bernama Pandora itu sunnguh brilian… Cameron menciptakan Pandora tidak asal-asalan… kita bisa melihat detail tentang Suku Na’vi dan keragaman flora fauna negeri Pandora, dan bagaimana selarasnya kehidupan di sana…

Dan tahukah anda, beberapa suku di pedalaman Indonesia masih hidup harmonis dengan alam—lengkap dengan ritual komunikasi dengan alam dan roh leluhur—sebelum kehidupan modern dan industri perlahan-lahan merambah kehidupan mereka….