Sebut saya pervert! Entah kenapa saya suka hunting film yang ada nude scene nya. Hehehe… Tapi bukan film sembarangan tentu saja. Kalo mau menonton adegan buka-bukaan saja gak usah susah-susah mencari. Yang saya maksud adalah film-film bagus, berkelas festival, dengan aktor dan aktris mumpuni, sehingga nude scene atau sex scene di film itu menjadi bernilai lebih, bukan sekedar merangsang penonton atau bahkan mengikuti selera pasar semata. Film-film jenis ini yang agak sudah didapat di pasaran. Pasti dikira film semi, padahal film seni… Kalau hanya dilihat sebagai film semi, maka kita hanya mendapat ‘ketegangan’ tapi kalau dilihat sebagai film seni, seharusnya ada hal-hal yang dapat kita ambil, semacam pesan humanisme yang akan memanusiakan kita kembali…

Kali ini saya hanya akan mereview beberapa judul yang sudah saya tonton, yang memiliki tema serupa, selain muatan erotik yang cukup kental di dalamnya, tentu saja… :D

1.       Aein (2005, Korea)

Ceritanya sederhana saja, seorang perempuan dan seorang laki-laki bertemu, lalu terlibat hubungan mesra, semua terjadi dalam latar waktu satu hari saja, atau bisa dikatakan sebagai cinta satu malam… oh indahnya… (lho kok malah nyanyi). Setidaknya terdapat 3 adegan intim di 3 tempat berbeda: di sebuah gedung kosong, di kamar hotel, dan di kamar mandi…

Perhatian utama saya tentu saja pada Hyeon-a-Seong, aktris pemeran utama wanita yang cantik dan sedap dipandang… *menelan ludah*

Hehe, tentu tidak hanya itu, kisahnya pun menarik diikuti. Dan saya tidak Cuma memperhatikan lekuk tubuh Hyeon-a-Seong lho, karena akting dia pun bagus, dia bisa benar-benar membawakan peran seorang perempuan dewasa yang sedang galau menghadapi pernikahan tetapi malah melibatkan diri dalam cinta satu malam dengan seorang pria asing.

2.       En La Cama (2005, Chile)

Tadinya saya berpikir antara Aein dan En La Cama salah satunya mencontek ide yang lain. Tapi karena diproduksi pada tahun yang sama, saya berkesimpulan kesamaan ide cerita hanya kebetulan saja…

Ceritanya hampir sama dengan Aein, laki-laki dan perempuan yang kebetulan bertemu dan terlibat cinta satu malam… oh indahnya.. (duh, nyanyi lagi). Menariknya, dalam En La Cama hanya ada satu scene, yaitu di dalam kamar sebuah hotel, lebih tepatnya di atas ranjang (sesuai judulnya yang berarti In Bed). Hanya ada 2 tokoh di sana, Daniela dan Bruno, yang melakukan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan berdua di atas ranjang sepanjang malam (pembaca bisa membayangkan sendiri).

Saya suka dengan penceritaan film ini, dimana dialog-dialognya yang bernas diselingi adegan-adegan mesra dan intim, perlahan-lahan membangun kisah, bahwa ternyata mereka tidak saling kenal, bahkan mungkin mereka mengarang nama mereka, dan di akhir film diungkap bahwa sang wanita ternyata akan menikah. Ya, dia membawa undangan pernikahannya di dalam tas. Oh damn!

3.       Jamon Jamon (1992, Spain)

Apa yang paling menarik dalam film ini? Tentu saja the 18-year-old Penelope Cruz!! Whew… lalu apakah dia melakoni adegan-adegan ho-oh ho-oh? Jangan tanyakan lagi, bukannya dari awal saya sudah bilang akan mereview jenis film ini? Hehehe…

Setidaknya penampilan pasangan Penelope Cruz dan Javier Bardem yang masih muda-muda di Jamon Jamon sangat segar,  tidak senanggung penampilan mereka berdua di Vicky Christina Barcelona, dimana tidak ada adegan vulgar meski kisahnya cukup romantis dan erotis… :P

Cerita film Jamon Jamon cukup kompleks, melibatkan seorang penjual ham (daging babi asap) , satu keluarga miskin terdiri dari ibu dan anak perempuannya, dan satu keluarga kaya yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki-lakinya. Mereka semua terlibat dalam cinta segi banyak yang jalin-menjalin. Susah juga menceritakan dengan detil, yang jelas banyak scene-scene menarik disana. Nggak nahan liat Penelope Cruz yang masih imut di emut-emut… whew… *ngelap keringat* apalagi Javier Bardem masih muda, gagah dan kekar… uugh.. rawwrr..(eh kok jadi gak jelas gini orientasi gue)

Film ini dengan witty dan smart menampilkan bagaimana kehidupan di pinggiran kota yang gersang, keras, dan penuh nafsu, dimana orang miskin pun harus bersaing dengan orang kaya dalam urusan cinta…

Saya kira cukup 3 film dari 3 negara yang saya review, karena sudah mewakili masing-masing benua yang berbeda. Sayangnya saya tidak mendapatkan film dari Afrika dengan tema serupa, hehehe… lagian kalau dapat film Afrika, apakah tahan menontonnya ya? Lebih baik nonton Discovery Channel…

Apa yang saya dapat dari ketiga film di atas? Kisah tentang nafsu. Nafsu yang seringkali mendapat pembenaran untuk dilampiaskan hanya karena depresi, emosi, dan kondisi psikologis manusia yang rapuh. Sementara,  perempuan yang selalu menggunakan emosi, menjadi objek. Saya melihat perempuan dalam film Aein dan En La Cama yang sedang gelisah mengahadapi pernikahan, melampiaskan kegalauan dengan mencari kepuasan dari pria lain. Para perempuan itu merasa menjadi subjek dengan mempermainkan laki-laki, tetapi mereka justru menjadi objektifikasi dari pria asing yang mencari cinta sesaat. Alih-alih menemukan kesenangan semu, para perempuan itu justru bertambah gelisah ketika pria asing itu mengharapkan lebih dari kesenangan semu semata.

Seperti halnya Penelope Cruz dalam Jamon Jamon, dia semakin bingung ketika si anak laki-laki kaya ternyata begitu desperate untuk mendapatkan cintanya, meskipun ia tampaknya hanya ingin bermain-main cinta saja. Sementara penjual ham menawarkan cinta yang lebih nyata, meskipun ia sebenarnya juga menjadi ‘brondong’ si nyonya kaya.

*****

Human,  love, passion. Tigal hal yang tak akan habis dikupas kisahnya. Saya senang dengan film-film yang mampu secara jujur menampilkan kisah manusia yang bergelut dengan cinta dan nafsu. Menonton film-film bertema demikian tidak sekedar memuaskan pikiran jorok, tapi selebihnya, saya belajar menyadari bahwa hawa nafsu juga bagian dari diri manusia. Cinta kadang hanyalah nafsu yang menggebu, dan sebaliknya di balik nafsu diam-diam ada cinta yang terselubung. Akhir kata, kita sendiri lah yang harus menentukan apakah nafsu atau cinta yang kita rasakan sebenarnya…

Pernahkah membayangkan bagaimana membangun sebuah situs pertemanan atau jejaring sosial dengan jutaan anggota? Film The Social Network menyajikan bagaimana peliknya mengembangkan situs Facebook. Mark Zuckerberg (diperankan oleh Jesse Eisenberg) dan sahabatnya Eduardo Saverin (Andrew Garfield) memulai facebook dari kamar asrama di Harvard. Anggotanya mula-mula adalah para mahasiswa Harvard, sebelum kemudian berkembang ke kampus-kampus lain hingga mendunia.


Film ini bukan semata film dokumenter yang menceritakan kesuksesan facebook. Mungkin ada beberapa elemen fiksi yang ditambahkan, hinga film ini menjadi kaya dengan konflik, namun tetap natural karena memang diangkat dari kisah nyata.

Maka kita bisa saksikan bagaimana jalinan persahabatan antara Mark dan Eduardo yang perlahan-lahan retak karena perbedaan ide, yang diperparah dengan munculnya Sean Parker (Justin Timberlake) founder Napster yang memberi banyak ide bagi perkembangan facebook.

Titik berat film ini adalah karakter Mark Zuckerberg yang nerd, agak misterius, dan cenderung antisosial. Sebagai programmer handal, ia ternyata sedikit mencuri ide tentang jejaring sosial itu dari sekelompok mahasiswa kaya yang merekrutnya untuk membuat jejaring sosial kampus Harvard. Alih-alih membantu mereka, Mark justru mengembangkan sendiri jejaring sosial yang awalnya diberi nama TheFacebook. Lalu dengan santainya ia bahkan mendepak sahabatnya sendiri, Eduardo, ketika facebook telah berkembang sebagai perusahaan. padahal, Eduardo lah yang menyandang dana sejak pendirian facebook.

Dengan penyajian alur bolak-balik, film ini menjadi enak untuk diikuti. Kisah berkelindan antara masa-masa awal Mark membangun facebook dan sidang-sidang yang dilalui Mark (ia dituntut Eduardo dan 3 mahasiswa Harvard yang menuduhnya mencuri ide).

Kisah Mark Zuckerberg pun menjadi ironi, bagaimana seorang yang mendirikan jejaring sosial dengan ratusan juta anggota sesunguhnya bukan seorang teman yang baik.

The Social Network diprediksi akan menjadi kompetitor yang cukup kuat dalam ajang Oscar nanti. Akting Jesse Eisenberg sebagai Mark Zuckerberg patut diperhitungkan.  Mungkin Justin Timberlake berambisi masuk nominasi dengan penampilannya sebagai Sean Parker ‘badboy’  pendiri Napster  yang cukup mencuri perhatian. Tapi Andrew Garfield sebagai seorang yang disia-siakan sahabatnya sendiri juga bermain apik.

Secara keseluruhan, The Social Network akan menjadi film klasik sebagai penanda semangat jaman ketika internet dan jejaring sosialnya menjangkau dunia.

9/10

Suatu malam saya bermimpi dikejar-kejar penjahat, lalu bersembunyi di balik mobil, berlarian di antara lorong-lorong gedung. Menegangkan, seperti dalam sebuah film thriller.

Lain waktu, saya kebelet pipis tengah malam. Dalam mimpi, saya beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke toilet, belum sempat saya memelorotkan celana, saya terbangun. Lalu dengan setengah sadar saya berjalan ke toilet. Belum sempat pipis, saya kaget dan terbangun lagi. Jiaah… ternyata masih mimpi. Mimpi di dalam mimpi!

Apapun bisa terjadi di dunia mimpi. Mimpi seperti labirin yg kita tidak tahu akan membawa kita kemana, dan dimana jalan keluarnya. Kita baru tersadar bahwa itu mimpi ketika kita terbangun dari tidur.

Adalah Christoper Nolan, yang memvisualkan mimpi dalam film terbarunya, Inception. Dengan didukung cast sekelas Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Marion Cotillard, hingga Ken Watanabe, maka tak salah jika ekspektasi penoton sangat tinggi. Dan Nolan benar2 membayarnya dengan menyuguhkan film kelas tinggi yang menyisakan diskusi panjang begitu penonton meninggalkan teater…

Menonton film ini rasanya seperti berbagi mimpi dengan penonton di seluruh dunia, lalu kita membicarakan tentang mimpi itu setelah terbangun. Jika belum menonton, sebaiknya segera beli tiket, lalu bergabung dengan jutaan manusia lain untuk ikut berbagi mimpi karya Nolan ini…

Susah juga membuat review yg baik tentang film ini tanpa memberi sedikit spoiler. Jadi maaf saja bagi yang belum nonton. Sebuah mimpi memang tidak akan menarik lagi jika sebelum tidur kita sudah tahu akan mimpi apa. Makanya, sebelum Inception dirilis, jalan cerita film ini tidak pernah terekspose. Baru setelah film tayang, bermunculan berbagai analisa dan interpretasi atas film ini.

Saya disini akan menganalisa sedikit tentang alur cerita. Setidaknya ada 2 garis cerita. Yang pertama, misi Cobb (Leonardo Dicaprio) dan timnya untuk melakukan insepsi (memasukkan ide ke dalam bawah sadar seseorang). Kedua cerita retrospeksi Cobb mengatasi rasa kehilangan atas istrinya, Mal (Marion Cotillard). Cerita pertama tentu beralur maju, adegan menegangkan dibangun hingga kita bertanya-tanya apakah misi mereka berhasil atau gagal. Sementara cerita kedua beralur mundur, kita dibuat penasaran akan apa yg awalnya terjadi pada Cobb dan Mal.

Menariknya, kedua cerita itu dibingkai dalam satu rangkaian mimpi, atau lebih tepatnya mimpi di dalam mimpi, terdiri dari 3 level mimpi. Disinilah film menjadi rumit, dan terjadilah ‘indeterminasi’ , ada yg menyebutnya plot-holes, titik-titik dimana penonton dapat melakukan interpretasi. Indeterminasi atau  gap-nya adalah antara mimpi dan realitas di sana, yang hampir tak terjelaskan sepanjang film.

Beberapa petunjuk dapat dirujuk untuk mengisi ‘gap’ dan berinterpretasi, mana realitas dan mimpi. Petunjuk itu, secara cedas, dihadirkan lewat beberapa penjelasan ilmiah tentang mimpi. Pertama, tentang bagaimana perbedaan relativitas waktu antara realitas dan mimpi. Kedua, tentang bagaimana membangun ruang dalam mimpi dan mengendalikannya. Ketiga, tentang totem, benda untuk menandai dan membedakan realitas dan mimpi. Keempat, yg menjadi premis film, adalah bagaimana ekstraksi dan insepsi ide dilakukan di alam bawah sadar.

Kerumitan film ini, menurut saya hanya terjadi karena penggabungan 2 cerita di atas. Kisah Cobb dan Mal sendiri bisa berdiri sendiri sebagai sebuah film drama surealis-psikologis. Lalu kisah misi itu punya bobot sama dengan aksi sci-fi sekelas Matrix.

Yang briliant dari Inception adalah penggabungan drama dan aksi sci-fi, dalam bingkai dunia mimpi. Christopher Nolan sekali lagi berhasil menyajikan kompleksitas dari ide-ide cerita sederhana, seperti yang pernah dilakukannya saat membesut Memento. Nolan tampaknya berhasil melakukan insepsi ide ke dalam bawah sadar penontonnya. Apa ide tersebut? Tergantung interpretasi masing-masing.

“Minggu Pagi di Victoria Park” (MVdVP) adalah film Indonesia yg pertama saya tonton di tahun 2010 ini, dan bener-bener puas. Film yg nggak mengecewakan.  Dengan hadirnya film karya seorang sutradara perempuan ini, sineas pria di negeri ini harusnya malu jika hanya bisa bikin film yg mengumbar syahwat.

Saya ingat, dulu pernah nonton filmnya Lola Amaria yg judulnya Betina di kampus. Film itu menurut saya bagus, meskipun surrealis, tapi tetep tidak kehilangan benang merah ceritanya. Jika film pertama Lola cenderung surealis, maka film keduanya adalah realis.

Nah, ekspektasi saya dengan film kedua Lola Amaria ini adalah rangkaian ceritanya akan apik, dan lagi menyajikan realita kehidupan TKW di hongkong. Jika pernah nonton film dokumenter Pertaruhan, kita akan tau kalo beberapa hal di MPdVP itu adalah potret realitas. Apalagi dengan sinematografi yg baik, film ini jadi sangat sedap dipandang. Hongkong dipotret sebagai kota yg indah, seindah harapan para TKW. Bukan gambaran Hongkong yg suram ala film gangster.

Dan ekspektasi saya terbayar. MPdVP memang menyuguhkan jalinan cerita yg jernih, dengan benang utama kisah Mayang yg datang ke Hongkong hanya untuk mencari Sekar, adiknya. Dari situ, konflik mulai dibangun dengan latar lika-liku kehidupan TKW.  Mayang bimbang dengan keputusannya mengejar sang adik ke Hongkong. Ia sebenarnya tak pernah akur dengan adiknya.

Cerita-cerita sampingannya memperkuat konflik utama. Keluarga majikan Mayang yg baik. Sari yg diporotin imigran India pacarnya. Ada Agus dan Yati, sepasang TKW yg lesbian. Gandi pegawai konsulat yg dekat dengan para TKW dan mau menolong Mayang mencari Sekar. Juga ada Vincent, orang Indonesia keturunan yg jadi pedagang di Hongkong, yg naksir Mayang. Alur utama dan sampingan berjalan selaras hingga mencapai klimaks dan penyelesaian yg rapi. Tidak ada kesan untuk mendramatisir, bahkan tidak ada satupun karakter antagonis di film ini. Yang antagonis adalah situasi, khas film realis banget.

Kalo ada yg bilang kekurangannya di beberapa adegan yg agak maksa (pesan sponsor kali yee) dan kemunculan karakter Gandi yg kurang pas (dan katanya lagi2 ini pesan sponsor juga..). Menurut saya itu semua nggak mengganggu jalan cerita. Karena cerita dan konfliknya dibuat sederhana dan serealistis mungkin, jadi ditambah adegan apa pun di luar cerita juga nggak masalah.

Film ini mengingatkan saya pada film-film drama Hongkong yg sering diputar di TV tahun-tahun 1990-an (bukan yg film vampir-vampiran lho). Cukup realis, tapi enak diikuti karena porsi dramanya pas. Juga mengingatkan pada kepiawaian sineas Iran merangkai cerita sederhana dan membalutnya dalam konflik batin antarmanusia. Jika film ini mampu juga berbicara di kancah internasional, dengan melihat film-film Indonesia yg pernah berjaya di festival film, maka kesimpulan saya wajah film Indonesia yg bagus adalah yg cenderung bercorak feminisme…

Bayangkanlah sebuah dunia yang begitu indah, dengan burung-burung berwarna-warni, tanaman-tanaman bersulur, bunga-bungaan yang berpendar cahaya di malam hari, dan gunung-gunung yg mengawang di angkasa. Di sana, ada peradaban manusia bertinggi 3 meter berwarna biru, yang begitu menyatu dengan alam. Tiap ujung helai rambut mereka menjadi alat penghubung untuk berkomunikasi dengan alam, untuk mendengarkan suara para leluhur, untuk menyeleraskan pikiran ketika berkendara dengan kuda dan burung.

Lalu aku pun membayangkan betapa menyenangkan menjadi seorang pembuat film di Hollywood, bisa mewujudkan impian seindah dan segila apapun hingga mampu memanjakan mata, bukan hanya di angan belaka…

Ya, dunia utopis itu bernama Pandora. Hanya suatu planet kecil, atau satelit. Penghuni pribuminya disebut kaum Na’vi. Penciptanya adalah James Cameron, yang juga pernah mencipta robot pemusnah dari masa depan bernama Terminator dan juga pernah mereproduksi kejayaan dan kehancuran kapal Titanic…

Wait a minute…. Pandora? Nama itu mengingatkanku pada kisah mitologi Yunani. Sebuah kotak bernama Pandora, yg jika dibuka akan membebaskan iblis di dalamnya. Pandora adalah sebuah paradox yang menjelaskan eksistensi manusia.

Itulah yg menjadi turning point kisah besutan James Cameron. Manusia bumi menginvasi Pandora, terkesima dengan kekayaan alamnya, lalu berniat membedah tanah Pandora untuk mendapatkan Unobtainium. Pilihan nama yg bagus untuk materi yg hanya memicu keserakahan manusia. Apa yg akan terjadi ketika manusia-manusia bumi itu “membuka” Pandora?

Jawabannya tentu saja akan anda temukan dalam film Avatar, film yg disebut sebagai film termahal saat ini…

Jika anda sudah menontonnya, silakan membayangkan diri anda tengah duduk di Rumah Pohon sambil membaca review ini… Jika belum, teruslah membaca sambil membayangkan rupa negeri Pandora… J

Alkisah, manusia bumi yg menginvasi Pandora semakin serakah untuk mengambil kekayaan alam bernama Unobtanium. Di sisi lain, sekelompok ilmuwan berhasil menjalin hubungan dengan suku Na’vi. Caranya dengan membuat ‘avatar’, tubuh buatan sebagai perantara, yg dikendalikan dengan kekuatan pikiran manusia. Dan setiap ilmuwan di sana hanya bisa mengendalikan satu avatar untuk berkomunikasi dengan suku Na’vi.

Para ilmuwan berhasil membangun hubungan baik dengan suku Na’vi, hingga mereka pun bisa berbahasa Inggris, dan para ilmuwan itu bisa pula berbahasa Na’vi. Sementara itu, perusahaan yg didukung militer tengah bersiap menghancurkan pusat peradaban Na’vi—yg berupa pohon raksasa yg menjadi rumah suku Na’vi—demi mendapatkan sumber Unobtainium yg tak terbatas di dasar pohon.

Di tengah mereka, muncul Jake Sully, mantan marinir yg lumpuh, yg menggantikan saudara kembarnya yang telah tewas untuk mengendalikan avatarnya. Pendatang baru ini diharapkan bisa berdiplomasi untuk merelokasi suku Na’vi dari Rumah Pohon mereka tanpa pertumpahan darah.

Kebetulan, ada pertanda dari roh leluhur hingga Jake Sully mendapat kepercayaan kepala suku. Ia pun belajar untuk menjadi bagian dari suku Na’vi, dengan dibantu Neytiri, putri kepala suku.

Hasilnya?

Tentu anda akan dengan mudah menebaknya: Jake Sully mampu menjadi bagian dari suku Na’vi dan menguasai semua keahlian mereka, dan bahkan meraih cinta Neytiri (does it sound so Hollywood?)

Masalah muncul di babak akhir film. Diplomasi Jake dan para ilmuwan gagal. Pohon itu terlalu keramat dan patut dipertahankan sampai mati oleh suku Na’vi. Jalan satu-satunya: perang. Lalu terjadilah perang antara militer bersenjata canggih, dengan suku-suku tradisional berpanah dan pisau. Dan Jake Sully beserta para ilmuwan berada di belakang suku Na’vi.

Jake Sully datang sebagai pahlawan Toruk macto berkendara burung terbesar di Pandora, mengalahkan pesawat2 militer lawan… dan senang sekali menyaksikan sang Jenderal yg menyebalkan mati terpanah (sorry bagi yg belum nonton, ini spoiler… :P ..)

Ya, itulah sekelumit kisah kepahlawanan a la Hollywood… yg terus dicoba untuk diperbarui dengan menampilkan konflik yg kekinian dan special effect super canggih.

Bagaimana pun, gambaran negeri utopia bernama Pandora itu sunnguh brilian… Cameron menciptakan Pandora tidak asal-asalan… kita bisa melihat detail tentang Suku Na’vi dan keragaman flora fauna negeri Pandora, dan bagaimana selarasnya kehidupan di sana…

Dan tahukah anda, beberapa suku di pedalaman Indonesia masih hidup harmonis dengan alam—lengkap dengan ritual komunikasi dengan alam dan roh leluhur—sebelum kehidupan modern dan industri perlahan-lahan merambah kehidupan mereka….

First impression: Script-nya berkelas, layak juga kalo masuk Oscar. Konspirasinya tidak begitu rumit, namun karena dibalut dengan beberapa konflik, alur ceritanya jadi mengalir smooth… Kalo soal akting, mungkin cuma Russel Crowe yg menonjol di sini. Secara pas dia memerankan Cal McCaffrey, tipikal jurnalis senior yg kenyang pengalaman di jalanan dan suka melanggar aturan demi mendapat berita. Dia jadi tokoh sentral di sini, dan semua konflik berhubungan dengan dirinya. Konflik utamanya bermula ketika dia meliput berita pembunuhan seorang pencopet-pecandu narkoba yg ternyata berhubungan dengan kematian Sonia Baker, seorang perempuan staf Congressman Stephen Collins (Ben Affleck). Nah, Stephen ini adalah kawan baik Cal, bahkan Anne Collins, istrinya juga ada main dengan Cal (!). Masalahnya, Sonia juga adalah selingkuhan Stephen. Konfliknya adalah, bagaimana Cal melakukan investigasi atas mereka dengan tetap menjaga pertemanan. Hingga kemudian situasi makin pelik ketika investigasi atas kematian Sonia Baker berujung pada sebuah perusahaan intelijen, PointCorp.

Tapi yg menarik bagi saya adalah konflik antara Cal dan Della Frye (Rachel McAdams), yg juga menjadi simbol konflik antara koran dan media online. Cal yg seorang jurnalis koran Washington Globe, seorang jurnalis sejati, agak antipati dengan Della yg juga jurnalis di grup media Globe, tapi menulis untuk versi online. Cal lebih suka menulis fakta dengan mengejar narasumber kunci, sementara Della terbiasa menulis ala blog yg penuh opini dan gosip. Ditambah dengan kemunculan Cameron (Hellen Mirren), sang editor yg menginginkan berita segar untuk menaikkan rating koran yg sudah mulai ditinggalkan pembacanya….

Nah, the point is… konflik internal media itulah yg menurut saya menjadikan film ini mewakili jaman sekarang. Film mengenai konspirasi politisi, intelijen, militer, bukan barang baru lagi. Sudah jamak film tentang konspirasi semacam ini, dan beberapa diantaranya bahkan diangkat dari kisah nyata.

Film ‘State of Play’ agak berbeda dalam menyuguhkan konspirasi. Tokoh jurnalis di film ini muncul sebagai orang awam di luar konspirasi yg mencari kebenaran. Film ini mewakili masa kini dimana media telah berkembang begitu jauh. Berita yg mengandung kebenaran memang masih diharapkan muncul dari koran, namun keberadaan media online yg sangat bebas, dimana setiap orang bisa berpartisipasi membuat kebenaran menjadi kabur. Film ini telah membawa spirit of the age, semangat jaman di mana laporan investigatif jurnalisme koran terkikis oleh jurnalisme praktis media online. Orang lebih suka membaca berita online yg satu dua paragraph menyajikan fakta. Sisanya, yg ramai hadir secara online adalah opini dan gossip yg beredar di antara blog, forum, dan kotak komentar yg biasanya muncul di bawah berita…

Sementara itu, jurnalisme koran yg mengedepankan fakta entah mengapa menjadi kurang diminati…

Dalam film ini juga sedikit disinggung tentang PR (Public Relations). Ada Dominic Foy (Jason Bateman), PR PointCorp yg kemudian jadi narasumber kunci Cal. Lalu digambarkan pula bagaimana ketika kasus ini mulai memanas, Stephen menggunakan jasa seorang konsultan untuk menangani media. Ini juga menarik karena saat ini, public figure juga perlu melindungi (citra) diri melalui penanganan media yg baik. Media saat ini, terutama dimotori oleh televisi dan online media, lebih mencari berita yg praktis atau berita yg heboh sekalian, meskipun pada akhirnya hanya menjadi gossip tanpa fakta yg memadai.

Catatan terakhir, meskipun tema utamanya adalah konspirasi, akan tetapi film ini sebenarnya menawarkan sesuatu yang baru . Titik beratnya lebih kepada konflik di media, dimana kertas koran sudah mulai digantikan oleh media digital. Masalahnya, konten koran tidak serta merta menjadi konten berita online. Dan saya sangat suka scene credit title di akhir film yg menampilkan footage proses pencetakan koran dari mulai pembuatan plat cetak hingga pendistribusian…. Dan headline koran Washington Globe yg sedang dicetak itu adalah akhir kisah konspirasi yg betul-betul twisted ending…..

Setelah hampir delapan tahun menundanya, setelah berkutat selama satu setengah bulan, akhirnya selesai sudah. Telah kubaca Tetralogi Pulau Buru, masterpiece Pramudya Ananta Toer yang legendaris. Tidak ada kata terlambat untuk membaca roman sejarah yang akan jadi karya abadi.

Delapan tahun yg lalu, sebenarnya aku pernah menemukan Bumi Manusia, bagian pertama tetralogi, teronggok di deretan buku-buku sastra di sebuah perpustakaan. Tapi entah mengapa, aku tak pernah meminjamnya. Dan satu setengah bulan yang lalu, ketika aku melihat keempat seri novel itu di perpustakaan kantor, tanpa pikir panjang kuputuskan aku akan membaca habis keempat buku itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Buku-buku itu menggenggamku, menenggelamkanku ke dalam masa kolonial di awal abad 20. Membaca buku-buku itu adalah pengalaman yang menggelisahkan, tentu saja karena perasaan yg teraduk-aduk dan keinginan untuk terus-menerus membaca buku itu, tanpa henti, karena rasa penasaran akan kelanjutan cerita, karena diri telah tenggelam dalam diri si aku-narator.

Narasi orang pertama dengan Minke sebagai si aku dalam Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, melarutkan diriku ke dalam kegelisahan jiwa Minke yang terus bergejolak ingin berontak. Pada akhirnya, muncul kesadaran Minke dalam diriku, kesadaran bahwa jaman sesungguhnya belum banyak berubah, keadaan di awal abad 21 ini tidaklah sebaik keadaan di awal abad 20. Masih banyak yang bisa diperjuangkan, masih banyak yg harus dilawan. Kemanusiaan masih harus terus diperjuangkan, kebodohan dan kerendahan moralitas masih harus terus dilawan.

Aku berpikir, jika aku membaca buku-buku itu beberapa tahun yang lalu, mungkin aku tidak berada di sini sekarang ini, mungkin aku telah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lain, menjadi manusia bebas seperti Minke, yang bebas bergerak dan bertindak, demi alasan humanisme.

Buku keempat, Rumah Kaca, cukup mengejutkan. Si aku sebagai narator dalam buku keempat adalah Pangemanann, seorang pegawai pemerintah Gubermen, pengagum Minke yg sekaligus juga menangkap dan membuang Minke. Membaca Rumah Kaca, diriku terlarut dalam kegelisahan Pangemanann, pegawai pemerintah yg begitu loyal pada pemerintah kolonial, meskipun hatinya sangat mengagumi perjuangan Minke. Tampaknya, Pramudya sebagai seorang humanis tidak ingin menjadikan manusia sebagai antagonis dalam Tetraloginya. Antagonis dalam tetralogi itu adalah sistem, sistem yang merenggut kebebasan manusia, dan memaksa manusia bersaing satu sama lain hanya untuk hidup. Sistem itu dihidupi oleh sebuah ideologi yang tak lekang oleh waktu, yg terus bermetamorfosa dalam berbagai bentuk, seperti virus yg resisten terhadap berbagai perubahan iklim. Dan sistem yang membenarkan manusia untuk saling menjatuhkan itu sekarang mungkin kita kenal dengan nama ‘politik’. Dan ideologi itu sudah lama dikenal sebagai ‘kapitalisme’.

Pesan moralnya adalah, membaca tetralogi ini membentuk kesadaranku, agar memiliki jiwa perlawanan Minke, agar tidak seperti Pangemanann yg terjerumus dalam lembah gelap sistem.

Semoga karya Mbah Pram ini bisa menjadi Jejak Langkah yang tertinggal bagi Anak Semua Bangsa agar di Bumi Manusia ini tidak pernah ada lagi ‘Rumah Kaca’.


detektip

Moral secara sederhana dapat diartikan sebagai nilai positif.  Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Moral adalah nilai-nilai yang dianut dan digunakan sebagai dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Penilaian terhadap moralitas diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Perilaku seseorang dianggap baik apabila sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya.

Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Maka, nilai-nilai moral yang dianut masyarakat bukan merupakan produk yang asal jadi. Moral adalah hasil dari perkembangan pengalaman dan pemikiran masyarakat, serta konvensi atau keputusan bersama masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang mempunyai akar kebudayaan sama, cenderung memiliki nilai-nilai moral yang sama. Dari sinilah moralitas kemudian menjadi suatu perangkat yang digunakan masyarakat untuk menilai sebuah kebenaran.

Ketika masyarakat menilai sesuatu sebagai hal yang ‘benar’, maka itulah ‘kebenaran’ yang dianut masyarakat. Dan kebenaran ini adalah hasil pengalaman manusia dalam berinteraksi sosial sehari-hari. Maka, tidaklah salah dalam kasus KPK-Polri, masyarakat lebih memihak kepada KPK, karena berdasarkan pengalaman masyarakat berinteraksi secara sosial dengan polisi– baik sebagai individu maupun sebagai lembaga– telah didapat kesimpulan bahwa polisi bukanlah pihak yang seratus persen ‘benar’. Dalam interaksinya, polisi seringkali berada di posisi ‘tidak sesuai dengan nilai moral’. Saya tidak perlu membeberkan contoh, karena saya yakin setiap orang punya pengalaman atau punya cerita mengenai hal ini…

Di sisi lain, KPK (secara lembaga) tidak berinteraksi langsung dengan masyarakat, maka masyarakat tidak bisa menaksir dengan nilai-nilai moral yang dianutnya apakah KPK benar atau tidak benar. Tetapi sebagai individu, seorang pejabat atau pegawai KPK, tentu juga berinteraksi sosial. Dan sejauh ini, penilaian masyarakat terhadap Bibit dan Chandra menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan polisi, kedua orang tersebut lebih bisa dipercaya.

Moralitas, bagi masyarakat, bisa digunakan untuk men-judge apakah seseorang bisa dikatakan baik atau benar. Tetapi, dalam ranah hukum, tampaknya, sebuah kebenaran tidak bisa didasarkan pada  moralitas…

woman-man relationship

ROMEO. Let me be ta’en, let me be put to death.
I am content, so thou wilt have it so.
I’ll say yon grey is not the morning’s eye,
‘Tis but the pale reflex of Cynthia’s brow;
Nor that is not the lark whose notes do beat
The vaulty heaven so high above our heads.
I have more care to stay than will to go.
Come, death, and welcome! Juliet wills it so.
How is’t, my soul? Let’s talk; it is not day.

JULIET. It is, it is! Hie hence, be gone, away!
It is the lark that sings so out of tune,
Straining harsh discords and unpleasing sharps.
Some say the lark makes sweet division;
This doth not so, for she divideth us.
Some say the lark and loathed toad chang’d eyes;
O, now I would they had chang’d voices too,
Since arm from arm that voice doth us affray,
Hunting thee hence with hunt’s-up to the day!
O, now be gone! More light and light it grows.

………. (Romeo and Juliet, W. Shakespeare-1595)

Drama Romeo and Juliet berkisah tentang cinta sehidup semati dua anak manusia. William Shakespeare menuliskannya pada abad 16. Pada kisaran abad itu, di tanah Jawa muncul kisah yg serupa, Roro Mendut dan Pronocitro. Di daratan Cina juga ada legenda tragedi cinta, Sampek dan Engtay. Kisah-kisah itu mirip tapi terjadi di belahan dunia yg berbeda, ini menunjukkan adanya spirit of the age atau semangat jaman pada masa itu.

Cinta pada masa itu dimaknai sebagai sesuatu yg sakral, yg pantas dipertahankan meskipun mengorbankan nyawa. Cinta seperti itu mungkin mendekati cinta ideal dalam teori Plato, yaitu cinta yg abadi, yg berlandaskan “goodness and beauty”. Cinta yg berasal dari ketulusan hati, yg menjadikan sepasang manusia sebagai satu kesatuan yg tak terpisahkan. Cinta dalam kisah Romeo-Juliet, Roromendut-Pronocitro, dan Sampek-Engtay, bermakna sangat dalam, hingga mereka lebih memilih cinta mereka abadi dalam kematian daripada harus terpisah.

Kisah-kisah cinta yg mengharu-biru seperti itu kini tampaknya tidak lagi menjadi inspirasi bagi manusia. Manusia sekarang lebih suka segala kepraktisan dalam hidup, lebih suka “menjalani” cinta daripada “memaknai”nya. Yang disebut cinta pada saat ini adalah sesuatu yang dengan mudah datang dan hilang, tak lagi suci dan abadi hingga layak dipertahankan hingga mati.

Semangat jaman sekarang bermuara pada televisi. Segala yg tersaji di televisi dengan mudah ditelan mentah-mentah oleh pemirsanya, dan menjadi bagian dari hidup mereka. Dan tidak ada kisah cinta seperti Romeo-Juliet di televisi (kecuali tentu sinetron/film yg terinspirasi karya drama itu, dan yg pasti telah disesuaikan ceritanya untuk konsumsi masa kini).

Televisi terkadang berusaha menampilkan realitas, seperti tertayang dalam apa yg disebut reality show. Tetapi, tv tidak akan membiarkan realitas tampil apa adanya. Realitas di tv adalah realitas instan, yg disajikan dengan mudah dan cepat, dan yg penting kemasannya menarik. Maka reality show yg bertebaran di berbagai stasiun tv, yg sebagian besar bertema cinta, lebih pantas disebut hiperreality show, karena tampil berlebihan. Realitas yg hendak disajikan telah melampaui realitas sesungguhnya, terkadang hanya menampilkan realitas yg diada-adakan.

Menurut Sartre, seorang filsuf abad 20, cinta hanyalah hubungan subjek-objek. Seseorang mencintai orang lain hanya agar dirinya diakui sebagai sang pencinta. Orang lain dianggap sebagai objek, hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia modern menginginkan pasangannya melakukan apa yg dikehendakinya, dan jika pasangannya tidak lagi memberikan apa yg dibutuhkannya dengan mudah ia meninggalkannya.

Sementara itu, pemenuhan kebutuhan manusia masa kini erat kaitannya dengan konsumsi. Maka percintaan manusia postmodern adalah cinta yang berbalut konsumerisme, hedonisme, dan gaya hidup. Ketika produksi sudah berjalan dengan baik, maka para kapitalis kini berupaya bagaimana masyarakat dapat mengkonsumsi sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba saja dari segala lini masyarakat diharapkan (dipaksa) mengonsumsi apa saja. Tidak penting apakah yg dikonsumsi tersebut penting, bermanfaat, atau menjadikan manusia semakin berkualitas hidupnya. Maka, tidak perlu membuat film bagus, jika film murahan saja mampu menjaring jutaan pasangan yg sedang dilanda cinta. Tak perlu dipikirkan restoran itu menyajikan makanan yg enak, bergizi, beracun atau tidak. Yang penting, tempatnya asyik untuk duduk berlama-lama, apalagi jika berduaan.

Cinta, sebagai satu sisi dari kemanusiaan kita, tak luput dari sasaran konsumerisme. Entah kenapa, semakin banyak iklan di televisi yg bertema cinta. Misalnya, iklan produk kosmetik yg menyiratkan bahwa seorang wanita harus memakai produk X ini jika ingin tampil lebih cantik dan putih sehingga bisa berhasil dalam percintaan. Iklan produk untuk kaum lelaki juga sama saja, menyiratkan bahwa dengan memakai produk tertentu, maka para pria akan dilirik banyak wanita.

Gaya hidup seperti ini perlahan-lahan menjatuhkan manusia dalam hedonisme. Semua dilakukan hanya untuk memenuhi kesenangan semata. Hidup hanya untuk memuaskan nafsu duniawi. Seseorang menjalin hubungan dengan orang lain hanya unuk kesenangan dan kenikmatan yg bersifat seksual.

Sesungguhnya, manusia di era postmodern telah menjadi objek. Manusia dipaksa mengkonsumsi demi memenuhi kebutuhan para kapitalis. Dan cinta, yg sejatinya adalah fitrah manusia, telah dikomodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi alat yg pas untuk menjaring konsumen. Maka, tak hanya iklan kosmetik yg mendorong orang mengkonsumsi hanya dengan tujuan untuk mendapatkan cinta yg diinginkannya; bahkan iklan eskrim dan permen pun menjadikan cinta sebagai komoditas.

Dengan menjadi objek, manusia postmodern telah kehilangan kemanusiaannya. Pola konsumsi menjadikan keunikan individu tidak lagi dihargai. Untuk dapat diakui atau memiliki eksistensi, manusia harus rela diobjekkan. Menjadi objek berarti memiliki tubuh seragam: seorang perempuan haruslah langsing, berkulit putih, berambut lurus panjang, berpakaian trendy (kakak perempuan saya menyebut tipe cewek seperti ini ordinary girls :p). Seorang lelaki harus bertubuh atletis, smart, berpenampilan layaknya eksekutif muda. Tapi tampaknya yg lebih menjadi objek tentu saja perempuan, karena laki-laki cenderung bersikap masabodoh. Perempuan lebih cenderung ingin tampil sesuai dengan yg diharapkan. Dan dalam hubungan pria-wanita, sang wanita yg lebih banyak dituntut untuk melakukan ini-itu sesuai kehendak sang pria.

Lalu, bagaimanakan hubungan yg ideal itu? Hubungan yg ideal, menurut Martin Buber, tidaklah berdasarkan hubungan subjek-objek (I-It), melainkan hubungan aku-engkau (I-Thou). Hubungan ideal ini berarti tidak memperlakukan orang lain sebagai objek, tetapi sebagai orang yg sejajar, bersifat timbal balik, aktual, dan dinamis, serta menghargai setiap individu. Dengan begitu, hubungan antarmanusia tidak hanya sebatas saling mengobjekkan demi memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi menjadi hubungan mutualisme yg meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Cinta berkaitan erat dengan eksistensi manusia. Reproduksi, yg menjamin kelangsungan keberadaan manusia, juga berawal dari cinta. Nah, sekarang, kembali pada diri masing-masing individu, bagaimana menjaga eksistensinya. Mau menjalin hubungan subjek-objek, atau hubungan ideal. Memilih hubungan subjek-objek, dengan penuh kesadaran, berarti membunuh kemanusiaan kita dan membiarkan diri kita hidup dalam dunia tubuh dan hawa nafsu. Dan bersiaplah mengatakan dengan lantang: “Aku belanja maka aku ada!!”. Memilih hubungan ideal, berarti menantang dan menentang jaman, mengorbankan egoisme, hawa nafsu dan hasrat tubuh. Bahkan harus rela mengorbankan nyawa demi cinta seperti Romeo dan Juliet. :P

Apapun itu, kedua pilihan itu tetap beresiko. Cinta tetaplah membawa penderitaan bagi manusia, seperti kata Romeo, gelap atau terang, itulah kesengsaraan kita….

ROMEO. More light and light- more dark and dark our woes!

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Masjidil Aqsa hingga menembus Sidratul Muntaha untuk menemui Allah SWT.

Liburan long weekend yg bertepatan dengan libur Isra’ Mi’raj kemarin, aku juga melakukan perjalanan, meskipun tidak ada hubungannya dengan peringatan Isra’ Mi’raj. Aku lebih suka menyebut perjalananku dengan perjalanan kembali ke alam.

Jakarta-Semarang-Wonosobo-Bandungan-Semarang-Weleri-Wonosobo-Jakarta

Perjalanan panjang manusia urban kembali ke alam ini dimulai dari kereta Senen (Jakarta)-Tawang (Semarang). Perjalanan kereta malam ini tidak begitu menyenangkan, tapi cukup memberi pengalaman. Pengalaman komunal sebagai manusia urban yg berdesakan dalam kereta di akhir pekan menuju kampung halaman. Ternyata begitu banyak orang yang ingin meninggalkan kota untuk pergi ke kampung, seperti juga diriku. Seperti ada ruang kosong di batin yang harus diisi dengan mengunjungi sesuatu yang bukan kota, atau tidak ada di kota.

Sesampai di Semarang sabtu subuh, aku melanjutkan perjalanan dengan bus ke Wonosobo. Untunglah pemandangan dan udara di pagi hari, saat matahari terbit di sepanjang Semarang-Wonosobo cukup menyejukkan, hingga membuatku lupa akan bus ekonomi yang kutumpangi yang reyot dan tidak nyaman itu.

Di daerah Ambarawa, tersaji pemandangan perkebunan di daerah perbukitan. Satu tahun yang lalu, pohon-pohon di bukit ini rimbun, namun sekarang hanya berupa tanaman-tanaman perdu, tampaknya sedang dilakukan peremajaan tanaman di perkebunan ini.

Sampai di daerah Temanggung, gunung-gunung mulai tampak berkilau tertimpa sinar mentari pagi, menjadikan lekuk-lekuk lereng bagaikan ukiran, sebuah karya seni maha indah dari Sang Pencipta. Gunung Sindoro dan Sumbing mengiringi perjalananku menyusuri Temanggung hingga Wonosobo. Gunung-gunung itu menjauh-mendekat, menyajikan wajahnya dari berbagai sisi, hingga titik terdekat antara aku dan mereka di Kledung. Udara sejuk membelai kulitku di sana.

Kampung halamanku, Wonosobo, masih tak banyak berubah. Udara masih sejuk, meskipun matahari di siang hari sangat cerah dan terik. Hanya satu yang tampak berbeda, alun-alun kota yang telah menjadi ruang publik yang asri, tempat yang nyaman untuk berolah raga di pagi atau sore hari, dan tempat yang nyaman pula untuk bersantai sambil menikmati jajanan yang dijajakan para pedagang kaki lima.

Family trip di hari minggu pagi yg cerah. Perjalanan ke Semarang pagi itu diputuskan via Bandungan. Mobil melaju melewati pegunungan, pedesaan yg asri, dan hutan dengan pohon2 yg hijau. Udara segar terhirup. Ahh…sesuatu yg akan kurindukan di tanah perantauan…

Di Bandungan, ada Candi Gedong Songo. Orang2 jaman dulu pandai sekali memilih tempat untuk membangun situs peribadatan. Candi dimanapun berada, selalu dekat dengan alam, membangkitkan kesyahduan, kekhusyukan. Manusia diingatkan untuk kembali ke alam, mendekat pada Sang Pencipta Alam Raya…

Semarang. Kota besar yg tidak besar. Melintasi kota ini, hanya sekedar nostalgia… mengenang masa 5 tahun yg terlewat di kota ini….

Perjalanan pulang menelusuri Kendal, Temanggung, hingga ke Wonosobo. Sepanjang perjalanan, dari daerah Kendal hingga Temanggung, areal lahan di kanan kiri jalan ditumbuhi tanaman berdaun hijau segar. Ternyata musim tembakau telah tiba. Di lahan luas di antara gunung Sindoro dan Sumbing, tanaman tembakau sudah tumbuh setinggi orang dewasa. Tampak geliat masyarakat. Tak lama lagi, suasana pedesaan yang bernaung di bawah kedua gunung itu akan semarak oleh panen raya tembakau…

Tak akan kurasakan harum tembakau terbaik yg dipanen musim ini….. saatnya kembali jadi manusia urban…

Sindoro

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.